Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Test link

Jurnal Refleksi 6

7 min read

Assalamualaikum Wr. Wb, Salam dan Bahagia!

Perkenalkan saya Agung Jaka Nugraha CGP Angkatan 11 dari Kota Probolinggo Jawa Timur.

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini dibuat sebagai refleksi diri setelah mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak pada modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional selama dua minggu. Adapun Tujuan dari materi Pembelajaran Sosial Emosional adalah memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri); menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri); merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial); dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran Sosial Emosional

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dilaksanakan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah berdasarkan kerangka kerja dari CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning). PSE bertujuan untuk mengembangkan lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Penerapan PSE di sekolah atau kelas melibatkan empat indikator: pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah yang mendukung, serta penguatan KSE pada tenaga pendidik dan kependidikan.

Dalam membuat Jurnal refleksi ini, saya akan menggunakan Model 4F yaitu Fact (Peristiwa), Feeling (Perasaan), Findings (Pembelajaran), and Future (Penerapan) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

Fact (Peristiwa)

Pada modul 2.2 ini, saya mulai mempelajari tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional. Pembelajaran ini mengikuti tahapan MERDEKA yang dimulai dengan Mulai dari diri pada tanggal 3 September 2024. Kami diberikan materi dan video melalui LMS serta diminta menjawab beberapa pertanyaan terkait pengalaman pribadi dalam menghadapi situasi sosial dan emosional sebagai pendidik. Pertanyaan tersebut mencakup bagaimana kami menghadapi krisis, cara kami bangkit, dan pelajaran yang kami ambil dari pengalaman tersebut.

Selanjutnya, pada tanggal 4 September 2024 kami mulai masuk pada bagian eksplorasi konsep yang memuat materi tentang Kompetensi Sosial Emosional, pembelajaran, dan penerapannya di sekolah. Proses belajar ini juga dilengkapi dengan tugas refleksi yang harus kami kerjakan setelah mempelajari setiap materi. Tujuan utama dari Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah memberikan pemahaman, penghayatan, dan keterampilan dalam mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan serta mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), serta membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Kemudian pada tanggal 6 September 2024 kami memasuki alur Ruang Kolaborasi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok belajar untuk saling berbagi praktik terbaik. Pada modul ini, saya di kelompok 2 yang terdiri dari guru kelas tinggi, berkesempatan berkolaborasi dengan Bu Nurul Kholilah dari SDN Mangunharjo 2 dan Ibu Novita dari SDN Sukabumi 7 Kota Probolinggo. Dalam kelompok ini, kami mempresentasikan kerja kelompok kami pada tanggal 9 September 2024 dengan materi dari tabel 3.1 tentang Ide Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional pada Murid, yang kemudian kami jelaskan lebih lanjut dalam bentuk penerapan dan pelaksanaannya di kelas. Selain itu, kami juga membahas materi dari tabel 3.2 yang berfokus pada Ide Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional untuk Rekan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di sekolah. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya wawasan kami, tetapi juga memberikan inspirasi untuk mengaplikasikan ide-ide tersebut dalam lingkungan sekolah, sehingga kami dapat terus mendukung perkembangan sosial dan emosional murid serta rekan sejawat.

Pada bagian Demonstrasi Kontekstual pada tanggal 10 September 2024, kami diberikan tugas menantang untuk membuat dan mengunggah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berdiferensiasi yang di dalamnya harus mencakup minimal dua Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Tantangan ini tidak hanya sekadar membuat RPP biasa, tetapi kami juga diminta untuk benar-benar memikirkan dan memilih secara cermat KSE yang relevan dan tepat untuk dimasukkan ke dalam pembelajaran.

Tugas ini bukan hanya sekadar menulis rencana pembelajaran, tetapi juga sebuah kesempatan untuk mengimplementasikan teori menjadi praktik yang nyata di kelas. Dengan memilih kompetensi yang tepat, saya berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan murid secara holistik, mengajarkan mereka cara menghadapi tantangan, dan menginspirasi mereka untuk terus berusaha mencapai tujuan mereka. Proses ini juga memberikan pengalaman berharga bagi saya sebagai pendidik dalam mengaplikasikan konsep Pembelajaran Sosial dan Emosional secara konkret di kelas.

Elaborasi Pemahaman dilaksanakan pada tanggal 12 September 2024, namun karena ada kendala sinyal maka jadwal ditunda pada keesokan harinya seusai Maghrib. Materi dipaparkan oleh Instruktur Bapak Omotrando Sihombing dari Riau. Saya memperoleh banyak ilmu terkait modul 2.2 Kompetensi Sosial emosional baik dari materi yang disampaikan maupun dari berbagi praktik baik sesama calon guru penggerak.

Pada tahap Koneksi Antar Materi dalam modul 2.2 dimulai bersamaan dengan Elaborasi Pemahaman, saya mulai menghubungkan setiap pembelajaran yang telah diperoleh, merangkainya menjadi pemahaman yang lebih utuh. Modul ini membuka mata saya akan pentingnya Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) sebagai bagian integral dari pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan karakter murid. Kesimpulan yang saya ambil dari modul ini adalah bahwa PSE berperan penting dalam membentuk murid yang memiliki kesadaran diri, mampu mengelola emosi, memiliki empati, serta mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab—kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi dari modul ini memperkuat keyakinan saya bahwa pembelajaran tidak hanya sebatas transfer ilmu, tetapi juga menyentuh aspek-aspek emosional dan sosial murid. Saya menyadari bahwa ketika kompetensi sosial dan emosional diintegrasikan dalam pembelajaran, murid menjadi lebih mampu menghadapi tantangan, bekerja sama dengan teman, dan mengambil keputusan dengan lebih bijak. Penerapan PSE di dalam kelas memberikan pengalaman nyata bagi murid untuk mempraktikkan keterampilan ini, yang pada akhirnya akan membekali mereka dengan kemampuan untuk menjadi individu yang tangguh dan adaptif.

Lebih dari sekadar teori, modul ini mengajak saya untuk melakukan refleksi diri sebagai pendidik, melihat kembali bagaimana saya selama ini menghadapi situasi sosial dan emosional di kelas. Saya belajar bahwa sebagai guru, saya juga perlu mengembangkan KSE dalam diri saya, agar mampu memberikan contoh yang baik bagi murid. Melalui pembelajaran ini, saya terdorong untuk lebih peka dalam mengelola suasana kelas, menciptakan lingkungan belajar yang suportif, dan mendampingi murid dalam proses perkembangan emosional mereka.

Secara keseluruhan, modul 2.2 menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana kita mengajarkannya dengan hati dan kesadaran penuh. Pembelajaran Sosial dan Emosional bukanlah tambahan, melainkan elemen esensial dalam membentuk generasi yang lebih baik. Refleksi ini menjadi pengingat bagi saya untuk terus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang holistik, mengutamakan keseimbangan antara aspek kognitif, sosial, dan emosional demi kemajuan murid-murid saya.

Pada tahap Aksi Nyata, kami tidak hanya sekadar mengumpulkan tugas, tetapi lebih berfokus pada penerapan langsung. RPP yang telah saya susun akan diimplementasikan atau dilaksanakan di hadapan Pengajar Praktik pada sesi Pendampingan ke-4. Ini memberikan kesempatan bagi saya untuk mempraktikkan pembelajaran secara langsung, mendapatkan masukan, dan melihat bagaimana teori yang dipelajari dapat diterapkan di kelas dengan efektif.

Feelings (Perasaan)

Terus terang, saya sangat bersyukur karena mendapatkan ilmu baru yang sangat berpengaruh terhadap eksistensi saya sebagai guru. Modul 2.2 memberikan wawasan mendalam mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE), yang sangat relevan bagi saya sebagai pendidik, terutama dalam menghadapi tantangan mengelola emosi negatif seperti marah dan khawatir. Melalui modul ini, saya merasa terdorong untuk lebih semangat mengimplementasikan setiap pengetahuan yang saya peroleh.

Selama sesi ruang kolaborasi dan diskusi, saya semakin memahami pentingnya penguasaan emosi melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional. Saya berharap dengan mempelajari materi ini, saya mampu lebih baik dalam mengontrol emosi diri, yang tentunya akan berdampak positif bagi orang lain, serta menjadi teladan bagi rekan-rekan sejawat.

Bagi guru, PSE sangat bermanfaat dalam melihat siswa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pembelajaran ini membantu guru menemukan pendekatan yang tepat dalam proses pembelajaran yang berpusat pada murid, sehingga dapat lebih menghargai dan mendukung perkembangan siswa secara holistik.

Findings (Pembelajaran)

Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional memberikan banyak ilmu baru, termasuk pentingnya mengenali emosi diri sebelum bertindak agar tidak berdampak negatif. Pembelajaran ini melibatkan seluruh komunitas sekolah dan membantu murid, pendidik, serta tenaga kependidikan dalam memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif terkait 5 Kompetensi Sosial dan Emosional.

Future (Penerapan)

Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional memberikan banyak wawasan baru, termasuk pentingnya mengenali emosi diri sebelum bertindak untuk menghindari dampak negatif. PSE adalah pembelajaran kolaboratif yang melibatkan seluruh komunitas sekolah untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif terkait 5 Kompetensi Sosial dan Emosional. Tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, meningkatkan kompetensi akademik, dan kesejahteraan psikologis. Pembelajaran berbasis 5 kompetensi ini membuat siswa merasa dihargai dan membantu guru merespons lebih baik, sehingga aspek akademik siswa juga dapat berkembang optimal.

Setelah mempelajari modul 2.2, saya berencana untuk melakukan beberapa langkah konkret. Pertama, saya akan menyusun rencana pembelajaran yang mengintegrasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) ke dalam kegiatan kelas. Ini bisa dilakukan baik secara terpisah maupun terintegrasi dengan mata pelajaran lain, sehingga siswa bisa merasakan manfaat PSE dalam setiap aspek pembelajaran.

Kedua, saya akan mensosialisasikan konsep PSE kepada seluruh warga sekolah. Tujuannya agar pemahaman dan penerapan PSE tidak hanya terbatas pada saya, tetapi juga menyebar ke rekan-rekan sejawat, sehingga seluruh komunitas sekolah bisa berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.

Ketiga, saya berkomitmen untuk menjadi teladan bagi siswa dan lingkungan sekolah, menunjukkan melalui tindakan nyata bagaimana kompetensi sosial dan emosional bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan langkah ini, saya berharap bisa memberi inspirasi dan dampak positif bagi seluruh warga sekolah.

Sekian jurnal refleksi yang bisa saya bagikan, semoga menginspirasi teman-teman yang lain.

Salam guru penggerak!
Tergerak, Bergerak, Menggerakkan!

Guru SD, Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kota Probolinggo

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar